Judul : Tradisi Pesantren
Penulis : Zamakhsyari Dhofier
Tahun Terbit: Cetakan ke-8 (Revisi), September 2011
Penerbit : LP3ES
Halaman : 282
Peresensi : Khoirul Muthohhirin
Tayangan “Xpose Uncensored” di Trans7 pada 13 Oktober 2025 yang menyorot kehidupan pondok pesantren dan figur KH. Anwar Manshur, pendiri Pesantren Hidayatul Mubtadiat Kompleks Lirboyo, memicu kontroversi di publik. Tayangan tersebut menampilkan sosok kiai dan kehidupan pesantren dengan cara yang tidak proporsional, bahkan bernuansa negatif, seolah pesantren adalah institusi feodal dan para santri hidup dalam kultur kepatuhan buta.
Padahal, sebagaimana dijelaskan Zamakhsyari Dhofier dalam karyanya Tradisi Pesantren, pandangan seperti itu lahir dari ketidakpahaman terhadap hakikat pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional yang memiliki sistem nilai dan etika tersendiri. Tujuan utama pendidikan pesantren bukanlah kekuasaan, uang, ataupun keagungan duniawi, tetapi penanaman kesadaran bahwa belajar merupakan kewajiban dan bentuk pengabdian kepada Tuhan. Para kiai tidak diposisikan sebagai penguasa, melainkan sebagai pendidik dan pengasuh spiritual yang berperan layaknya orang tua bagi santri.
Ekonomi dan Prestise Kiai : Antara Spiritualitas dan Feodalisme Semu
Salah satu aspek penting dalam memahami struktur pesantren adalah kedudukan ekonomi dan prestise sosial seorang kiai. Dhofier menjelaskan bahwa etika ekonomi kiai didasari keyakinan bahwa segala kekayaan hakikatnya milik Allah. Karena itu, meskipun sebagian kiai memiliki pengaruh besar dan sumber daya ekonomi yang kuat, kekayaan dan kedudukan sosial mereka tidak pernah dimaksudkan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menopang kegiatan pesantren dan kesejahteraan santri.
Dalam konteks ini, label “feodal” menjadi tidak relevan. Feodalisme dalam makna klasik menempatkan penguasa sebagai pemilik kekuasaan mutlak atas rakyatnya, seringkali dengan hierarki sosial yang menindas. Sementara itu, prestise seorang kiai tumbuh bukan dari paksaan sosial, tetapi dari karisma moral dan otoritas spiritual yang diakui secara sukarela oleh masyarakat. Santri dan masyarakat menghormati kiai karena keilmuan, keteladanan, dan keberkahan yang diyakini melekat pada diri mereka. Dengan demikian, relasi kiai dengan santri dipahami secara lebih tepat sebagai relasi etis-religius, bukan feodalistik.
Hubungan Ideal Murid dan Guru : Antara Penghormatan dan Otoritas Spiritual
Hubungan antara murid dan guru merupakan pondasi fundamental dalam tradisi pesantren. Dhofier menegaskan bahwa pengetahuan tidak akan berguna jika seorang murid tidak memiliki rasa hormat kepada gurunya. Bentuk penghormatan ini bukanlah penyerahan diri secara total yang meniadakan nalar kritis, melainkan ekspresi kepercayaan spiritual bahwa guru adalah perantara ilmu dan saluran kemurahan Tuhan.
Relasi tersebut sering menjadi bias tafsir dari luar tradisi pesantren. Bagi sebagian pengamat modern, ketaatan dan penghormatan tinggi santri terhadap kiai dianggap sebagai bentuk otoritarianisme bahkan feodalisme. Padahal, dalam kerangka pesantren, otoritas kiai bersifat transendental, ia berasal dari tanggung jawab moral dan spiritual, bukan dari sistem kekuasaan sosial. Kiai dihormati bukan karena jabatan atau status, melainkan karena kapasitasnya sebagai penjaga ilmu dan nilai-nilai keislaman.
Setiap kiai atau guru memiliki penafsiran sendiri mengenai batasan penghormatan dan otoritas, bergantung pada pemahaman keagamaan serta konteks sosialnya. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki dinamika internal yang kaya dan fleksibel, bukan sistem tertutup seperti feodalisme klasik.
Dengan demikian, apa yang tampak sebagai “feodalisme” di mata luar sebenarnya merupakan bentuk penghormatan berbasis spiritualitas dan keilmuan dalam dunia pesantren. Ketaatan santri bukan tanda keterbelakangan, melainkan manifestasi adab dan sebuah nilai luhur dalam pendidikan Islam tradisional.
Melalui Tradisi Pesantren, Zamakhsyari Dhofier berhasil membongkar kesalahpahaman publik terhadap dunia pesantren yang sering dilihat dari kacamata modern sekuler. Pesantren bukanlah lembaga feodal yang memproduksi ketimpangan sosial, melainkan lembaga pendidikan yang menanamkan nilai-nilai moral, spiritual, dan intelektual.
Kiai memang memiliki otoritas dan prestise, tetapi keduanya bersumber dari integritas dan keteladanan, bukan dari sistem kekuasaan. Relasi kiai dengan santri dibangun di atas cinta, adab, dan pengabdian, bukan penindasan. Maka, memahami pesantren secara utuh memerlukan lensa budaya dan spiritual, bukan sekadar logika politik atau ekonomi.

Komentar
Posting Komentar