Langsung ke konten utama

Ada yang Lebih Mengerikan daripada Darurat Militer: Darurat Membaca

Di tengah riuh rendah politik dan hiruk-pikuk isu keamanan, ada satu darurat yang jarang dibicarakan: darurat membaca. Padahal, data terbaru PISA 2022 menunjukkan skor literasi membaca Indonesia hanya 359, turun dari 371 pada 2018. Lebih dari 60 persen siswa Indonesia hanya berada di Level 1—hanya mampu memahami teks sederhana tanpa bisa menafsirkan informasi yang lebih kompleks.

Darurat ini sesungguhnya lebih mengerikan daripada darurat militer. Jika darurat militer mengancam fisik, maka darurat membaca mengancam daya pikir. Bangsa dengan literasi rendah mudah terjebak hoaks, sulit bersaing dalam inovasi, dan hanya menjadi penonton di panggung global.

Namun, ada titik terang. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2024 meningkat menjadi 73,52, naik 5,9 persen dari tahun 2023. Angka ini menandakan adanya gairah membaca yang mulai tumbuh, meski belum cukup kuat untuk menutup ketertinggalan.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Pertama, jadikan literasi sebagai fondasi seluruh mata pelajaran, bukan hanya Bahasa Indonesia. Kedua, hidupkan kembali budaya membaca 15 menit sebelum belajar di sekolah. Ketiga, perluas akses ke perpustakaan digital gratis dan dorong tumbuhnya komunitas literasi di desa-desa. Selain itu, guru harus diperlengkapi sebagai agen literasi sekaligus teladan nyata bagi murid.

Darurat membaca adalah ancaman senyap. Ia tidak terdengar seperti dentuman senjata, tetapi dampaknya jauh lebih menghancurkan. Karena itu, literasi harus dijadikan proyek nasional—dari ruang kelas, rumah, hingga ruang publik.

Bangsa yang gemar membaca adalah bangsa yang mampu menulis masa depannya sendiri.


Sumber : 

OECD, PISA 2022 Results

Perpustakaan Nasional RI, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat 2024


Khoirul Mutohhirin (Pegiat Ilalang Institute)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gagap Memahami Pesantren: Bias Pemahaman antara Feodalisme dan Penghormatan

Judul              : Tradisi Pesantren Penulis          : Zamakhsyari Dhofier Tahun Terbit: Cetakan ke-8 (Revisi), September 2011 Penerbit        : LP3ES Halaman       : 282 Peresensi      : Khoirul Muthohhirin Tayangan “Xpose Uncensored” di Trans7 pada 13 Oktober 2025 yang menyorot kehidupan pondok pesantren dan figur KH. Anwar Manshur, pendiri Pesantren Hidayatul Mubtadiat Kompleks Lirboyo, memicu kontroversi di publik. Tayangan tersebut menampilkan sosok kiai dan kehidupan pesantren dengan cara yang tidak proporsional, bahkan bernuansa negatif, seolah pesantren adalah institusi feodal dan para santri hidup dalam kultur kepatuhan buta. Padahal, sebagaimana dijelaskan Zamakhsyari Dhofier dalam karyanya Tradisi Pesantren, pandangan seperti itu lahir dari ketidakpahaman terhadap hakikat pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional yang memiliki sistem nilai dan eti...

Siapa Untung dari Polarisasi? Membongkar Kepentingan di Balik Media Sosial

Pasca demonstrasi besar-besaran beberapa waktu lalu, media sosial kembali memanas. Setiap kali muncul peristiwa politik, mulai dari kebijakan DPR, kasus korupsi, hingga cara Prabowo menangani hiruk-pikuk negara yang menjadikan publik seketika terbelah. Dua kubu atau lebih saling berhadap-hadapan, bukan hanya di jalanan, tetapi juga di lini masa. Fenomena ini semakin diperkuat oleh algoritma. Kita hanya disuguhi konten yang sesuai dengan keyakinan kita, membentuk echo chamber yang mempersempit ruang dialog. Isu yang mestinya bisa dibahas dengan kepala dingin berubah menjadi narasi “kita melawan mereka”. Meme, potongan video, hingga komentar provokatif menjadi bahan bakar agitasi, sementara hoaks dan disinformasi ikut memperlebar jurang perbedaan. Media Sosial sebagai Alat Kepentingan Di balik hiruk-pikuk tersebut, media sosial jelas bukan ruang netral. Ia telah menjelma menjadi alat kepentingan. Aktor politik, kelompok bisnis, bahkan pihak asing memanfaatkan jejaring digital untuk meng...

Ketika Realitas Ditentukan oleh Layar

Paul Watson, salah satu pendiri Greenpeace, pernah mengatakan: “Kebenaran yang dianut media massa bukanlah kebenaran sejati, melainkan sesuatu yang dianggap masyarakat sebagai kebenaran” Pernyataan ini relevan dengan kondisi kita hari ini, di mana layar televisi dan gawai lebih sering menentukan apa yang kita anggap nyata ketimbang pengalaman langsung. Media bukan sekadar pemberi informasi. Ia berperan sebagai pabrik realitas yang memproduksi fakta. Fakta yang masuk ke ruang redaksi atau algoritma media sosial tidak hadir begitu saja, melainkan dipilih, dipoles, dan dikemas dalam bahasa yang membentuk makna tertentu. Ketika berita tersaji, kita jarang sadar bahwa ia sudah melewati proses penyaringan yang sarat kepentingan. Bahasa menjadi senjata utama pembentuk realitas. DeFleur dan Ball-Rokeach menegaskan bahwa media mampu menciptakan istilah baru, memperluas arti lama, bahkan menggeser makna yang sudah ada. Lihat saja kata “viral” yang dulu identik dengan penyakit menular, kini ia me...