Pidato Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam
Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beberapa waktu lalu menarik
perhatian publik, baik di dalam maupun luar negeri. Dalam pidatonya, Presiden
menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi agen perdamaian dunia, ia menyatakan
terkait kesiapan menyumbangkan tenaga, pikiran, bahkan dukungan finansial demi
menjaga stabilitas global. Komitmen ini selaras dengan amanat Pembukaan UUD
1945 yang menegaskan peran aktif Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia
yang abadi dan berkeadilan.
Seakan tidak melakukan analisis dalam ranah domestik, di tengah carut-marutnya kondisi sosial, ekonomi, dan politik, keputusan menyatakan komitmen besar di kancah global ini justru memicu pertanyaan: sudahkah Indonesia benar-benar damai dan sejahtera di dalam negeri?
Krisis Sosial dan Ekonomi yang Tak Kunjung Usai
Dalam satu dekade terakhir, Indonesia menghadapi berbagai
tantangan serius. Ketimpangan sosial meningkat, kemiskinan ekstrem masih
menghantui lebih dari 10 juta penduduk (BPS, 2024), dan sektor pendidikan serta
kesehatan belum menunjukkan perbaikan signifikan. Belum lagi tekanan politik
yang ditandai dengan dinamika kekuasaan, polarisasi masyarakat, serta
kebijakan-kebijakan yang seringkali tidak berpihak pada kepentingan publik
jangka panjang.
Kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi unggulan
pemerintahan baru, misalnya, menyerap anggaran hingga ratusan triliun rupiah.
Meskipun bertujuan mengatasi masalah gizi buruk dan stunting, implementasinya
memunculkan kekhawatiran. Salah satu yang paling disoroti adalah pengalihan
anggaran dari sektor pendidikan dan riset—dua sektor yang sejatinya menjadi
pilar utama dalam membangun peradaban bangsa.
Menurut laporan Kementerian Keuangan (2024), sebagian besar
dana untuk MBG diambil dari pemangkasan alokasi anggaran pendidikan dan
penelitian. Padahal, berdasarkan data UNESCO Institute for Statistics, rasio
belanja penelitian Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN
lainnya seperti Malaysia atau Thailand. Tanpa investasi serius di sektor ini,
ambisi Indonesia untuk bersaing secara global atau menciptakan solusi-solusi
inovatif bagi tantangan nasional akan semakin sulit terwujud.
Ironisnya, respon dunia internasional terhadap pidato
presiden prabowo justru positif dan memuai banyak pujian. Pujian lahir dari
presiden Amerika Serikat, Doland Trump yang mengatakan bahwa pidata Prabowo
sangat hebat. Hal tersebut karena Prabowo secara terang-terangan melawan argumen
Doland Trump yang mengatakan climate change dan isu lingkungan merupakan hoaks.
Emmanuel Macron juga melontarkan pujian terhadap pidata Prabowo, ia mengatakan
bahwa Prabowo sangat tegas, berani dan konkret.
Tanggapan dunia internasional yang positif seperti mengabaikan
realitas Indonesia saat ini. Pidato yang berisi pro-lingkungan namun
eksploitasi alam masih marak dilakukan, kebijakan populis yang bersifat “meminta
dukungan politik” tanpa mempertimbangkan hal-hal substansial-faktual hanya
mengakibatkan krisis yang ditutup-tutupi. Krisis yang semakin membasar akan
menciptakan kekacauan baik secara ekonomi, sosial, politik maupun budaya. membuktikan
keadaan Indonesia masih jauh dari kata sejahtera dan damai.
Perdamaian Dunia Harus Dimulai dari Dalam Negeri
Menjadi agen perdamaian dunia memang sejalan dengan visi
kebangsaan Indonesia. Namun, upaya menciptakan perdamaian global tidak akan
memiliki makna bila kondisi dalam negeri masih jauh dari stabil dan
berkeadilan. Perdamaian bukan sekadar ketiadaan konflik bersenjata; ia mencakup
kesejahteraan rakyat, rasa keadilan, akses terhadap pendidikan, serta pemenuhan
kebutuhan dasar warga negara.
Ketika rakyat masih menghadapi kesulitan ekonomi, pendidikan
yang mahal dan tidak merata, serta kebijakan pemerintah yang dinilai tidak
inklusif, maka wacana menjadi pembawa damai di level global terdengar seperti
retorika kosong.
Kritik ini bukan berarti menolak visi besar Indonesia di
kancah internasional. Justru sebaliknya, kita mendorong agar visi tersebut benar-benar
diwujudkan secara utuh, yakni dimulai dengan membenahi urusan di dalam negeri.
Pemerintah harus menyelaraskan ambisi luar negeri dengan kebijakan domestik
yang pro-rakyat dan berorientasi pada pembangunan jangka panjang.
Menguatkan Fondasi untuk Membangun Jembatan
Dalam kancah Internasional, peran Indonesia sebagai agen
perdamaian dunia adalah cita-cita luhur dan layak diperjuangkan, mengingat
Indonesia sebagai salah satu negara yang diperhitungkan secara geopolitik. Namun,
perjuangan itu harus dibangun di atas fondasi yang kuat: keadilan sosial,
kesejahteraan rakyat, dan stabilitas nasional yang sejati. Tanpa hal itu, semua
ambisi di panggung internasional hanya akan menjadi simbol kosong—nyaring di
luar, namun rapuh di dalam.
Seperti pepatah lama, “perdamaian sejati dimulai dari rumah
sendiri.” Sudah waktunya pemerintah lebih fokus menyelesaikan problem internal
bangsa, membangun manusia Indonesia yang cerdas dan sejahtera, sebelum
benar-benar berdiri di garis depan dalam menjaga perdamaian dunia.
Sumber :
Badan Pusat Statistik. (2024). Kemiskinan dan Ketimpangan
Pengeluaran Penduduk Indonesia. https://www.bps.go.id
Kementerian Keuangan RI. (2024). Rincian APBN 2024:
Penyesuaian Anggaran untuk Program Prioritas. https://www.kemenkeu.go.id
UNESCO Institute for Statistics. (2023). Research and
Development Expenditure. http://uis.unesco.org
UUD 1945. Pembukaan Alinea keempat.
United Nations General Assembly. (2025). Speeches of World
Leaders at UNGA 80th Session.
Ahmad Abdullah Farhan (Pegiat Ilalang Institute)

Komentar
Posting Komentar